Feed Shark <!--Can't find substitution for tag [blog.gizi-taput]-->
Omreg

27 November 2009

Manfaat gandum buat hipertensi

gandum digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan roti, cake, biskuit, pastri, dan sereal sarapan. Selain kaya akan karbohidrat dan protein, dalam setiap 100 gram gandum terkandung 3,1 mg zat besi dan 36 mg kalsium yang bermanfaat, antara lain dapat menyembuhkan penyakit jantung koroner dan darah tinggi.

Food and Drug Administration, badan yang mengawasi makanan dan obat-obatan di Amerika, pada tahun 1999 mengumumkan fakta baru tentang manfaat gandum. Gandum memiliki khasiat bagi kesehatan jantung. Menurut penelitian terakhir, gandum dapat menurunkan tingginya tekanan darah. Hasil penelitian itu dimuat oleh American Journal of Clinical Nutrition tahun lalu.

Menurut dr Prapti Utami, seorang herbalis, konsultan dan penulis buku Terapi dengan Tanaman Obat, gandum memiliki kandungan serat yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit jantung koroner. “Oatmeal memiliki serat alami yang daya serap air paling baik. Ia mengandung folic acid yang dapat mengurangi dan menyembuhkan penyakit jantung koroner. Oatmeal didapat dari biji gandum yang telah diolah. Biji gandum terdiri atas dua bagian. Bagian luar, sekam dan biji bagian dalam, yakni groat,” terangnya.

Selain itu, oat bran yang didapat dari lapisan terluar oat groat menjadi sumber terbaik serat yang dapat dicerna (soluble fibre). Serat pada oat bran dapat mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari tubuh. Peran inilah yang bisa membuat turunnya kolesterol dalam darah. Orang yang menderita obesitas bisa mengombinasikan oat dengan makanan rendah kolesterol dan lemak. Oat juga baik dikonsumsi oleh orang yang mengidap diabetes.

Berdasarkan penelitian, gandum mengandung berbagai senyawa fitokimia, yakni senyawa dalam tanaman kimia dalam tanaman yang mempunyai pengaruh positif bagi kesehatan.

Ada beberapa senyawa fitokimia, yakni lignan. Estrogen tanaman (fitoestrogen) mampu menekan risiko penyakit jantung koroner dan telah terbukti bisa menekan pertumbuhan sel kanker pada binatang percobaan. Asam fitat pun dapat mengurangi kadar gula dalam bahan pangan yang sangat penting bagi penderita diabetes serta memberikan efek perlindungan terhadap risiko perkembangan sel kanker kolon (usus besar).

Senyawa yang lain adalah saponin, fitosterol, squalen, orisanol, dan tokotrienol yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Sementara senyawa fenol berperan sebagai antioksidan yang mampu mengikat ion-ion radikal bebas sehingga tidak berbahaya bagi tubuh.

Meski memiliki banyak senyawa fitokimia, gandum merupakan makanan yang aman dari zat adiktif. “Kebanyakan produk oatmeal tidak mengandung bahan adiktif apa pun. Bahkan tidak ada bahan pengawet maupun pewarna pada mayoritas produk oatmeal” katanya.

Menurut penelitian, 50 persen perempuan berusia lebih dari 20 tahun lalu memenuhi kebutuhan nutrisi esensial macam kalsium, folic acid, vitamin B6, vitamin A dan E, serta zat besi. Dengan mengonsumsi gandum, kebutuhan nutrisi tersebut bisa terpenuhi. Produk gandum tersebut bisa terpenuhi. Produk gandum khusus perempuan berbentuk sereal. Di dalamnya, terdapat vitamin A, D, kalsium yang berguna bagi kesehatan tulang, dan penambah energi berupa zat besi dan vitamin B, serta folic acid dan vitamin E.

Cara termudah untuk menyiapkan steel cut oats ialah dengan merendamnya semalaman. Sebelum tidur, didihkan 4 gelas air dalam panci dan tambahan satu gelas oatmeal. Aduk hingga benar-benar larut dan matikan apinya. Biarkan oatmeal dalam panci tertutup hingga pagi. Ketika akan disajikan, panaskan kembali oatmeal agar hangat. Anda juga bisa memanfaatkan food processor untuk menyiapkan gandum. Pisau-pisau di dalam food processor akan mengiris gandum.

Atau bisa juga bisa dimasak dengan microwave. Campurkan setengah gelas steel cut oat dengan dua gelas air di dalam mangkuk yang bisa menampung delapan gelas air. Tutup mangkuknya dengan plastik pembungkus lalu masukkan ke dalam microwave. Panaskan selama lima menit. Aduk rata dan hangatkan kembali dalam microwave selama lima menit.


Disadur oleh : Juli Oprianty Saragih
Sumber: http://lifestyle.okezone.com


Rajendra Sigamani,Napthali Marganda H,Raja Erjan
Readmore »

Kebutuhan Nutrisi pada Lansia

A. Pendahuluan

Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.

Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.

Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

* Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti, singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.
* Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.


2. Kelompok zat pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.


3. Kelompok zat pengatur
Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.


B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

* Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
* Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
* Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
* Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
* Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
* Penyerapan makanan di usus menurun.



C. Masalah Gizi pada Lansia

1. Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.

Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

2. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.


D. Pemantauan Status Nutrisi

1. Penimbangan Berat Badan

a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.

b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa :
Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)
Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus :

Berat badan ideal = TB dalam cm – 100

Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein
Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.

3. Kekurangan vitamin D
Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.


E. Perencanaan Makanan untuk Lansia

- Perencanaan makan secara umum

1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.

Contoh menu :

* Pagi : Bubur ayam
* Jam 10.00 : Roti
* Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya
* Jam 16.00 : Nagasari
* Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang


3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.

4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.

5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

* Makanlah makanan yang mudah dicerna
* Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
* Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
* Makan dalam porsi kecil tetapi sering
* Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan


6. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.

7. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.

8. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng

- Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna

Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid :

1. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti sayuran dan buah-buahan segar, roti dan sereal.
2. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk melembutkan feses.
3. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin , karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif.



F. Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral)

1. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan
2. Posisikan pasien duduk atau setengah duduk.
3. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan.
4. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan.
5. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien, tanyakan pemberian makan terlalu cepat atau lambat.
6. Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang ingin dimakan.
7. Setelah selesai makan, posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit.



G. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT)

Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan, seperti pada pasien-pasien stoke. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut :

1. Siapkan makanan cair dan minuman hangat
2. Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 menit setelah memberi makan.
3. Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu.
4. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau air. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan.
5. Periksa kerekatan selang, jika selang longgar beritahu perawat.
6. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera.
7. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering.


H. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan

1. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi, bubur beras, nasi jagung, kentang, singkong, ubi, talas, biskuit, roti , crakers, maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung hunkwe, mie, bihun.
2. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng, minyak ikan, margarin, kelapa, kelapa parut, santan, lemak daging.
3. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi, daging ayam, hati, babat, usus, telur, ikan, udang.
4. Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, oncom, tahu, tempe.



I. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral

1. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter.
2. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. Penting diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis.
3. Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan.
4. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde.
5. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya, misalnya 3 x 1 berarti obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam ; jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali.



Disadur oleh : Juli Saragih


Rajendra Sigamani,Bina M Tampubolon,Raja Erjan Girsang,Tumpal Barata Simanjuntak,Noftar Simamora,Napthali M Hutauruk
Readmore »

50 Nutrisi Esensial Bagi Tubuh

Ada sekitar 50 zat nutrisi esensial yang dibutuhkan tubuh untuk dapat menjalankan fungsinya dengan normal atau optimal yang tidak dapat digantikan dengan zat lainnya. Secara rutin, zat nutrisi esensial itu dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses ekskresi, oleh karena itu kita harus harus selalu menjaga keberadaan nutrisi esensial di dalam tubuh melalui makanan kita sehari-hari.

Zat nutrisi dapat dikatakan sebagai zat yang esensial jika memenuhi 2 kriteria sebagai berikut :

* merupakan zat yang penting untuk kesehatan, dan
* tubuh tidak dapat mensintesisnya dalam jumlah yang memadai. Dengan demikian, glukosa, meskipun "penting" bagi metabolisme normal, tidak digolongkan sebagai esensial karena tubuh biasanya dapat mensintesis semua yang dibutuhkan, dari asam amino, misalnya.


Selain itu, jumlah nutrisi esensial yang harus ada dalam makanan untuk menjaga kesehatan bukanlah kriteria untuk menentukan apakah substansi sangat penting. Setiap hari diiperlukan sekitar 1500 gram air, 2 gram asam amino methionine, namun hanya sekitar 1 mg vitamin tiamin diperlukan per hari oleh tubuh kita.

Air merupakan salah satu zat nutrisi penting atau esensial karena kehilangan air melalui urine, kulit dan saluran pernafasan jauh lebih banyak daripada jumlah yang dapat disintesis oleh tubuh. Air dapat terbentuk dalam tubuh kita sebagai produk akhir fosforilasi oksidatif dan juga dari beberapa proses metabolisme. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan air, asupan air sangat penting.

Unsur mineral merupakan contoh zat yang tidak dapat disintesis atau dipecah-pecah tetapi terus hilang dari tubuh di dalam air kemih, tinja, dan berbagai proses sekresi lainnya. Mineral utama harus diberikan dalam jumlah yang cukup besar, sementara untuk unsur mineral lainnya diperlukan dalam jumlah yang lebih kecil. Kita telah mencatat bahwa 9 dari 20 asam amino merupakan zat nutrisi esensial. Dua asam lemak, linoleat dan linolenat, yang berisi sejumlah ikatan ganda dan melakukan peran penting dalam sistem kimia tubuh, juga termasuk dalam zat nutrisi esensial.

Daftar Zat Nutrisi Esensial :

Air
Unsur mineral
7 unsur mineral utama:

* Calcium Ca
* Phosphorus P
* Potassium K (Latin kalium)
* Sulfur S
* Sodium Na (Latin natrium)
* Chlorine Cl
* Magnesium Mg


13 unsur trace mineral:

* Iron Fe (Latin ferrum)
* Iodine I
* Copper Cu (Latin cuprum)
* Zinc Zn
* Manganese Mn
* Cobalt Co
* Chromium Cr
* Selenium Se
* Molybdenum Mo
* Fluorine F
* Tin Sn (Latin stannum)
* Silicon Si
* Vanadium V


Asam amino esensial:

* Isoleucine
* Leucine
* Lysine
* Methionine
* Phenylalanine
* Threonine
* Tryptophan
* Tyrosine
* Valine


Asam lemak esensial:

* Linoleic
* Linolenic


Vitamins
Vitamin larut dalam air:

* B1: thiamine
* B2: riboflavin
* B6: pyridoxine
* B12: cobalamine
* Niacin
* Pantothenic acid
* Folic acid
* Biotin
* Lipoic acid
* Vitamin C


Vitamin larut dalam lemak:

* Vitamin A
* Vitamin D
* Vitamin E
* Vitamin K


Nutrisi esensial lainnya:

* Inositol
* Choline
* Carnitine


Vitamin

Vitamin adalah sekelompok dari 14 organik nutrisi penting yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dalam makanan. Struktur kimia yang tepat dari vitamin pertama untuk ditemukan tidak dikenal, dan mereka hanya diidentifikasi dengan huruf abjad. Vitamin B ternyata terdiri dari delapan substansi yang sekarang dikenal sebagai vitamin B kompleks. Tanaman dan bakteri memiliki enzim yang diperlukan untuk mensistesis vitamin, dan itu adalah dengan makan baik tumbuhan atau daging dari hewan yang memakan tanaman itu, dari situlah kita mendapatkan vitamin.

Vitamin tidak memiliki struktur kimia khusus yang sama, tetapi mereka dapat dibagi menjadi vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air dalam bentuk bagian-bagian dari koenzim seperti NADSOH, Fad, dan koenzim A. vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K) pada umumnya tidak berfungsi sebagai koenzim. Sebagai contoh, vitamin A (retinol) digunakan untuk membentuk pigmen yang sensitif terhadap cahaya di mata, dan kekurangan vitamin ini malam menyebabkan kebutaan.

Katabolisme vitamin yang tidak menyediakan energi kimia, walaupun beberapa dari mereka berpartisipasi sebagai koenzim dalam reaksi kimia yang melepaskan energi dari molekul lain. Meningkatkan jumlah vitamin dalam makanan melebihi minimum tertentu tidak selalu meningkatkan aktivitas enzim tersebut untuk vitamin yang berfungsi sebagai koenzim. Hanya jumlah yang sangat kecil koenzim berpartisipasi dalam reaksi kimia yang memerlukan mereka dan meningkatkan konsentrasi di atas tingkat ini tidak meningkatkan laju reaksi.

Jumlah vitamin yang masuk ke tubuh bervariasi tergantung pada jenis vitamin itu, apakah vitamin larut dalam air atau vitamin yang larut dalam lemak. Jumlah vitamin yang larut air dalam makanan meningkat, demikian juga jumlah yang diekskresikan dalam urine; sehingga akumulasi vitamin jenis ini dalam tubuh menjadi terbatas.

Di sisi lain, type vitamin yang larut dalam lemak dapat terakumulasi dalam tubuh karena mereka hanya sedikit diekskresikan oleh ginjal dan karena mereka larut dalam lemak dalam jaringan adiposa. Asupan dalam jumlah besar dalam dari vitamin tipe ini, terkadang dapat menimbulkan efek toksik bagi tubuh.


Disadur oleh : Juli Oprianty Saragih


Rajendra Sigamani,Napthali Marganda H
Readmore »