Feed Shark <!--Can't find substitution for tag [blog.gizi-taput]-->

18 Oktober 2009

Khasiat kacang kedelai

Pria pemakan tahu dan tempe adalah pria jantan. Paling tidak itulah yang
tersirat dari hasil penelitian terakhir, menyangkut produk makanan yang berasal
dari kacang kedelai. Sejumlah unsur aktif dalam kacang kedelai terbukti
mencegah kanker, termasuk kanker prostata yang membuat pria kehilangan
kemampuan seksualnya.

Jadi, istilah bangsa tempe atau semangat selembek tahu, tidak lagi berlaku
dalam dunia medis. Ternyata, kacang kedelai atau makanan olahan darinya seperti
tahu atau tempe, memicu produksi molekul pencegah kanker prostata dan kebotakan
pada pria. Molekulnya disebut Equol, dihasilkan di dalam saluran pencernaan,
ketika produk makanan dari kacang kedelai dicerna. Kanker prostata, selain
menyebakan potensi seksual pria menjadi loyo, juga dapat memicu kematian.

Molekul Equol, sebagai produk dari dalam tubuh manusia sendiri, ketika mencerna
kacang kedelai ditemukan sekitar 20 tahun lalu, oleh Keneth Setchell PhD,
direktur bagian spektrometri massa klinis, di rumah sakit anak-anak Cincinnati.
Dalam penelitian lanjutan, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas
Colorado, universitas Brigham Young dan rumah sakit anak-anak Cincinnati,
ditemukan khasiat Equol dalam pencegahan kanker prostata dan kebotakan pada
pria tsb.

Seperti diketahui, penyakit kanker prostata merupakan masalah utama kesehatan
pria berusia di atas 50 tahun di negara barat. Di Jerman saja, setiap tahunnya
sekitar 29.000 pria terserang kanker prostata. Sementara di Amerika Serikat,
setiap tahunnya muncul 220.000 kasus baru kanker prostata. Jika diambil
rata-rata kasus, separuh dari pria berumur di atas 50 tahun, biasanya mengalami
pembesaran kelenjar prostata. Tapi, perubahan anatomi itu, mayoritasnya tidak
berbahaya. Hanya jika pembesaran prostata itu, merupakan kanker ganas,
penderitanya harus menjalani pengobatan medis. Tingkat kematian penderita
penyakit kanker prostata, rata-rata 50 per 100.000 kasus.

Memblokir kanker prostata

Molekul Equol, ternyata berfungsi memblokir fungsi hormon lelaki
dyhidro-testosteron disingkat DHT, yang mendorong tumbuhnya kanker prostata dan
kebotakan pada pria. Memang, beberapa tahun sebelumnya industri farmasi
mengembangkan obat, yang berfungsi mencegah aktifnya enzym tertentu, yang
mengubah testosteron menjadi DHT. Akan tetapi, obat-obatan itu memiliki dampak
sampingan yang merugikan. Sementara molekul Equol, tidak berkerja mencegah
terbentuknya DHT, tapi mencegah DHT berfungsi.

Ibaratnya DHT, yang dalam kondisi normal menstimulir pertumbuhan kanker dan
kebotakan itu, diberangus kaki dan tangannya. Dengan itu, Equol mencegah DHT
melakukan reaksi dengan reseptor androgen, yang berarti mencegah pembesaran
kelenjar prostata. Dengan cara bereaksi langsung dan menon-aktifkan DHT, tanpa
mempengaruhi produksi testosteron, Equol mengurangi dampak merugikan hormon
lelaki, tanpa mempengaruhi keuntungannya. Demikian kata prof. Robert Handa
peneliti senior dari fakultas biomedik sains Universitas Colorado. Kelebihan
molekul Equol adalah, secara bersamaan menghambat fungsi hormon androgen,
sekaligus mempengaruhi aksi hormon estrogen.

Ujicoba pada tikus percobaan di laboratorium, membuktikan, pemberian suntikan
Equol pada tikus jantan, menyebabkan pengecilan kelenjar prostata. Dalam
penelitian lebih lanjut, tikus percobaan diangkat kelenjar buah pelirnya,
sehingga dengan begitu tikus tidak lagi memproduksi DHT. Para peneliti kemudian
menyuntukan dihydro-testosteron pada tikus yang diangkat buah pelirnya.
Ternyata kelenjar testosteron tikus membesar. Tetapi jika tikus percobaan hanya
diberi suntikan Equol saja, tidak terjadi dampak apapun. Jika secara bersamaan
disuntikkan DHT dan Equol, tidak terjadi perubahan anatomi pada prostata tikus.
Rangkaian percobaan ini hendak membuktikan, Equol tidak mempengaruhi kadar
hormon, tapi hanya memblokir fungsi DHT saja.

Contoh kasus Jepang

Ujicoba ini, dapat menjelaskan, mengapa kasus kanker prostata di kalangan warga
Jepang jauh lebih rendah, dibanding kasus di kalangan warga AS atau Jerman.
Padahal ketiga negara sama-sama tergolong negara industri maju. Penyebabnya,
warga Jepang mengkonsumsi kacang kedelai dalam bentuk olahannya, yakni tahu,
dalam jumlah cukup banyak. Inilah yang menjelaskan, mengapa kasus kanker
prostata di kalangan warga Jepang, relatif kecil. Equol yang dihasilkan, ketika
mencerna kacang kedelai, terbukti merupakan pelindung serangan kanker di
kalangan warga Jepang.

Selain kanker prostata, yang dapat menurunkan potensi seksual pada pria,
masalah kebotakan juga menjadi problem sehari-hari di negara barat. Memang
kebotakan tidak terkait secara langsung dengan kesehatan, dan lebih banyak
berhubungan dengan penampilan serta rasa percaya diri. Tapi, jika sekitar 40
juta pria di AS mengaku stress, menghadapi masalah kebotakan ini, persoalannya
tentu juga bukan main-main lagi. Sejauh ini, memang belum diketahui penyebab
pasti kebotakan khas pada pria tsb. Diduga penyebabnya adalah gabungan rumit,
antara gangguan hormonal dan faktor genetika. Namun, dalam penelitian, juga
terbukti Equol dapat mencegah kebotakan.

Salah satu penjelasan logisnya, Equol yang menghambat fungsi hormon yang
merugikan, tapi membiarkan hormon yang menguntungkan, mencegah proses kebotakan
akibat gangguan hormonal tsb. Juga khasiat Equol, yang berfungsinya mendorong
aktivitas hormon wanita estrogen, diduga memperlambat proses rontoknya rambut,
akibat pengaruh hormon lelaki testosteron. Dari berbagai ujicoba itu, para
peneliti biomedis mengarapkan dapat membuat Equol sintetis. Dengan itu, dapat
dibuat obat pencegah kanker prostata, kebotakan dan sekaligus obat penyegar
kulit.

Isoflavon pencegah kanker

Tapi tentu saja penelitian khasiat kacang kedelai, tidak hanya berhenti pada
molekul Equol, yang dihasilkan dalam tubuh. Penelitian juga diarahkan untuk
menggali lebih dalam, khasiat yang terkandung dalam kacang kedelai itu sendiri.
Misalnya, rendahnya kasus kanker di Jepang, tidak hanya menyangkut kanker
prostata saja. Namun juga jenis kanker lainnya. Ternyata, konsumsi tahu, kecap,
tempe atau makanan olahan lainnya dari kacang kedelai meningkatkan daya tahan
terhadap kanker. Kuncinya, terletak pada senyawa yang disebut Isoflavon yang
boleh dibilang, hanya terdapat pada kacang kedelai saja.

Isoflavon dijuluki estrogen nabati, karena fungsinya yang mendorong metabolisme
estrogen. Dalam ujicoba di laboratorium, terbukti senyawa Isoflavon mampu
menghambat pertumbuhan beberapa jenis kanker. Diantaranya juga kanker prostata.
Diduga, selain memicu produksi Equol, unsur aktif dalam kacang kedelai itu
sendiripun, yaknia Isoflavon, berfungsi melakukan regulasi, untuk menghambat
tumbuhnya kanker.

Apakah hanya pria, yang diuntungkan dengan konsumsi produk makanan dari kacang
kedelai ini? Bagaimana dengan wanita? Bukankah wanita sudah memiliki estrogen
sendiri? Tentu saja, tidak hanya pria yang memetik keuntungannya. Juga wanita,
diuntungkan dengan keberadaan unsur aktif Isoflavon maupun molekul Equol.
Terutama pada wanita yang memasuki masa menopause, Isoflavon memiliki fungsi
mengurangi rasa nyeri serta meningkatkan kepadatan tulang. Seperti diketahui,
jika wanita memasuki masa menopause, produksi estrogennya berhenti. Masukan
estrogen nabati dari produk makanan olahan kacang kedelai, ternyata hampir
tidak menimbulkan dampak samping. Jadi, kita harus bangga menjadi bangsa tahu
dan tempe, yang sebetulnya menjadikan pria tetap jantan dan wanita tetap sehat.



Disadur oleh: Juli Saragih


Syamsul Arifin,Akbar Tanjung,JusuF Kalla,Bakrie,Tommy Soeharto,R.E Nainggolan,Humbang Hasundutan

0 komentar:

Posting Komentar