Feed Shark <!--Can't find substitution for tag [blog.gizi-taput]-->

10 Oktober 2009

Tips membeli makanan kemasan di supermarket

Untuk produk makanan, divisi yang bertanggung jawab terhadap aman tidaknya suatu produk dilepas ke pasaran adalah bagian pengendalian mutu.

Pada prinsipnya, tujuan makanan atau minuman dikemas adalah agar lebih tahan lama (awet). Dari sini sebenarnya kita sudah maklum bahwa pada akhirnya makanan tetaplah akan rusak meski dikemas dengan bahan sebagus apa pun. Inilah yang lazim disebut tanggal kadaluwarsa. Jika Anda membeli produk kemasan, jangan lupa memperhatikan tanggal kadaluwarsa.

Untuk makanan kaleng, pilihlah yang kalengnya tidak penyok, karatan atau cembung. Kaleng yang cembung merupakan petunjuk bahwa telah terjadi kerusakan yang disebabkan oleh adanya bakteri pembentuk gas, seperti Clostridium botulinum. Mikroba ini dapat mengeluarkan racun yang dapat menyebabkan kematian pada manusia. Tanda keracunannya biasanya tenggorokan kaku, penglihatan ganda, otot kejang, dan kemudian sulit bernafas.
Paling mudah adalah melihat tanggal kadaluarsa (expired date) yang tercantum diluar kemasan, jika tidak ada tanggal kadaluarsa maka urungkan niat anda untuk mengkonsumsi produk tersebut.

makanan kaleng
- pilih yang kalengnya tidak penyok, karatan atau cembung.
- jika ada, pilih produk yang telah terdaftar dan perhatikan tanggal kadaluwarsanya.
- untuk daging corned, goyangkan kaleng terlebih dahulu, pilihlah yang tidak berbunyi.
- jangan makan bila kaleng dibuka di bagian dalamnya tampak bintik hitam, makanan berwarna gelap atau berjamur.

minuman ringan
- yang terkemas kardus, usahakan kemasannya masih bagus.
- jangan dikonsumsi jika terbentuk buih, muncul bau alkohol, rasa kecut, pemudaran warna atau ada penjuluran lendir.

susu
- bila susu whole milk full cream, pilih kemasan kaleng.
- hindari susu tang terlalu pekat kekentalannya.
- susu segar mudah rusak, karena itu segera panaskan.
- susu pasteurasi yang telah dibuka kemasannya, lebih baik segera diminum habis atau disimpan di lemari es.

Jarang disadari bahwa kadang-kadang kita menebar racun bagi diri sendiri, meskipun tidak disadari. Semua orang dengan mudah akan menderita keracunan bila tidak berhati-hati dalam memilih maupun menangani sesuatu makanan. Racun tersebut dapat berasal dari kuman, pembasmi hama (pestisida), atau bahkan bahan tambahan makanan yang sengaja ditambahkan untuk memperoleh efek tertentu dari sesuatu makanan
Setiap orang sebenarnya selalu membawa kuman, baik di mulut, hidung, saluran pernapasan, saluran pencernaan, maupun pada kulitnya. Kuman ini dengan mudah dapat dipindahkan ke makanan. Bakteri patogen atau bakteri penyebab penyakit memang sering ditularkan dari para karyawan yang menangani bahan makanan, biasanya melalui tangan yang kurang bersih sewaktu persiapan maupun penyajian makanan.
Di samping manusia, ternak, serangga, maupun binatang rumah, sering membawa bakteri patogen. Secara umum, tanah pun selalu mengandung bakteri. Jumlah bakteri tersebut akan menjadi semakin banyak dan berbahaya bila tercemar kotoran manusia. Karena itulah, sayur-sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian harus selalu dibersihkan atau dicuci untuk menghilangkan kotoran. Tempat pencucian pun harus terpisah dengan tempat untuk mempersiapkan makanan.
Dikenal istilah cross contamination atau pencemaran silang, yakni bakteri dari salah satu sumber yang tercemar pindah ke sumber belum tercemar yang biasanya baru saja dimasak. Pencemaran silang ini dapat melalui alat-alat atau karena salah meletakkan makanan atau bahan pangan dalam lemari es sehingga bahan pangan yang belum tercemar menjadi tercemar.
Dalam kenyataan sehari-hari, proses pemilihan makanan yang sehat, bergizi, dan aman atau tidak tercemar, sulit dilaksanakan. Misalnya, makanan yang sudah mulai membusuk atau beracun, tidak selalu tertangkap oleh indera kita. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sewaktu makan kita telah berspekulasi, beracun atau tidakkah makanan yang kita telan?

MENURUT FAO (Food and Agriculture Organization), sebagian besar terjadinya keracunan makanan disebabkan oleh mikroba serta racun (toksin) yang dikeluarkan oleh mikroba tersebut. Lebih dari 80 persen di antaranya disebabkan oleh pencemaran bakteri patogen.
Ada dua cara proses terjadinya keracunan oleh jasad renik, yaitu intoksikasi dan infeksi. Pada cara intoksikasi, misalnya pada keracunan tempe bongkrek, bakteri tumbuh dan berkembang biak di dalam makanan sebelum disantap. Sewaktu tumbuh, diproduksi racun di luar tubuhnya yang disebut eksitoksin.
Racun ini bercampur dengan makanan. Umumnya racun yang diproduksi lebih tahan panas dibandingkan bakterinya sendiri. Jika bakteri pada pemanasan selama dua menit dalam air mendidih sudah mati, racun ini baru rusak setelah dipanaskan dalam air mendidih selama 30 menit. Apabila makanan yang telah tercemar racun ini dimakan dan masuk ke dalam lambung, hanya dalam waktu dua jam atau kurang akan berakibat mual, muntah-muntah, disertai rasa mulas, dan diare.
Sedangkan pada cara infeksi, bakteri juga tumbuh dan berkembang biak dalam makanan, tetapi racunnya diproduksi di dalam tubuh dan tidak di luar bakteri tersebut. Bila seseorang makan makanan yang telah tercemar ini tidak segera keracunan karena racunnya tidak bekerja bila bakterinya belum mati. Jika jumlah bakteri yang mati telah cukup banyak, racunnya pun cukup banyak untuk merangsang lambung dan usus besar. Misalnya menimbulkan penyakit demam tifoid, disentri, dan sebagainya.
Berbeda dengan keracunan yang disebabkan oleh Clostridium welchii, yakni racun diproduksi sewaktu bakteri tersebut tumbuh di saluran pencernaan. Gejala utama adalah sakit perut dan diare, jarang disertai muntah-muntah.

MAKANAN kaleng juga tidak jarang menimbulkan bencana keracunan, meliputi satu keluarga, seasrama, sejumlah karyawan yang mengonsumsi ransum dari katering, atau sejumlah orang pada sebuah pesta. Hal demikian adalah akibat makanan kaleng yang telah rusak dan mengandung racun.
Beberapa tanda makanan kaleng yang telah rusak antara lain, keadaan kaleng kembung dengan derajat kekembungan yang lunak sampai keras. Dapat pula dikenali adanya kerusakan pada sambungan kaleng, karatan, bocor, penyok, labelnya rusak, atau penampilannya mencurigakan. Namun demikian, kaleng yang normal pun belum tentu bermutu baik. Kerusakan keasaman tidak menyebabkan kaleng kembung.
Keracunan karena toksin yang diproduksi oleh Clostridium botulinum, yang disebut botulinin, biasanya sangat fatal. Sejumlah kecil racun ini, katakanlah 2 mg saja, telah cukup mengakibatkan kematian orang dewasa. Setelah diserap usus kecil, racun ini mampu melumpuhkan otot-otot alat tubuh yang vital seperti jantung, paru-paru, dan alat tubuh yang lain. Untungnya, racun ini tidak tahan panas sehingga dengan pemanasan selama 6 menit (tipe A) pada suhu 80 derajat Celcius dan 15 menit (tipe B) pada suhu 90 derajat Celcius, racun tersebut sudah tidak aktif lagi.

DULU jarang terdengar orang menderita keracunan akibat bahan tambahan makanan. Sebab dulu orang lebih suka menggunakan kunyit dan daun pandan sebagai pelengkap masakan.

Namun, kini orang cenderung menggunakan bahan sintesis, baik berupa penyedap rasa, pewarna, pemanis, pengawet, maupun untuk kepentingan serupa.
Celakanya, tidak jarang pedagang makanan yang “nakal” karena menggunakan bahan tambahan makanan tersebut melampaui takaran yang dianjurkan atau bahkan menambahkan bahan yang tidak semestinya ditambahkan. Banyak makanan dan minuman yang tampak berwarna cerah dan menarik, ternyata menggunakan bahan pewarna pakaian. Tahu diawetkan dengan formalin, yang biasanya digunakan untuk pengawet jaringan atau mayat.

Beberapa di antara bahan tambahan makanan tersebut bersifat merangsang timbulnya kanker maupun mengakibatkan terjadinya cacat pada bayi di dalam kandungan. Lebih repot lagi, daya racun bahan ini tidak jelas kelihatan karena baru bereaksi setelah terkumpul dalam jumlah besar di dalam tubuh.
Bagaimana mencegahnya? Salah satu upaya pencegahan yang paling murah adalah dengan sanitasi pangan. Sanitasi pangan termasuk produk yang disimpan, ditangani, dipersiapkan, atau diproduksi, serta higiene karyawan yang menangani pangan tersebut. Hal ini juga dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga.
Untuk mencegah pencemaran silang, bahan pangan mentah sebaiknya tidak diletakkan berdampingan dengan makanan matang. Makanan matang harus diusahakan diletakkan di rak paling atas. Jangan membiarkan tetesan air atau makanan menjatuhi makanan di bawahnya. Ceceran makanan pada rak maupun dinding lemari es bisa merupakan sumber pencemaran. Karena itu, lemari es harus dibersihkan beberapa hari sekali. Semakin lama tidak dibersihkan, semakin tinggi kadar pencemarannya. Tandanya, banyak makanan yang justru cepat membusuk bila disimpan di dalam lemari es.

Mencegah keracunan makanan kaleng, antara lain dengan tidak mengonsumsi makanan kaleng yang telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti kaleng kembung, karatan, penyok, label tidak jelas, telah melewati masa berlakunya (kedaluwarsa), dan sebagainya. Jangan mencoba mencicipi makanan kaleng yang mutunya diragukan, tetapi didihkan makanan tersebut selama 15 menit sebelum disantap terutama yang bukan bersifat asam.
Bahan tambahan makanan alami jauh lebih sehat dan aman dibandingkan dengan yang bukan. Jika terpaksa menggunakan bahan tambahan makanan seperti penyedap, pemanis, pengawet, dan sebagainya, pakailah yang benar-benar diperuntukkan bagi makanan, itu pun dalam takaran yang wajar, tidak berlebihan.
Meskipun di rumah para ibu rumah tangga telah sangat berhati-hati, celakanya di luar para produsen masih suka “menabur racun” dalam produk mereka. Di samping diperlukan kesadaran dan partisipasi masyarakat maupun lembaga konsumen, peran aparat pengawas seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) sangat penting, bukan hanya pada momen tertentu seperti menjelang Lebaran. Hal ini tentu untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.




Disadur oleh: Juli Oprianty Saragih


Tumpak Dolok Siregar,Tumpal Parapat Siregar,Ririn Anrice Sihombing,Pemmy Manurung

0 komentar:

Posting Komentar