Feed Shark <!--Can't find substitution for tag [blog.gizi-taput]-->

03 September 2009

Visi Bangsa Sehat Dengan Sistem Kesehatan Nasional

Tajuk Rencana Suara Pembaruan, "Sungguh Kita Tersentak", mengutip pernyataan
pejabat Departemen Kesehatan, dr Rahmi, yang mengatakan 100 juta atau
setengah dari rakyat Indonesia mengalami kekurangan gizi, seperti vitamin A, zat
besi, dan yodium, terutama anak dan ibu hamil, sehingga berdampak melahirkan
generasi yang bodoh.

Selain itu, survei tahun 2003 mengungkapkan 21 % pria dewasa dan 15
% anak tengah mengalami obesitas yang dalam jangka panjang bisa
menimbulkan penyakit jantung, kencing manis, dan stroke sebagai akibat gizi
berlebih. Masalah gizi menghantui bangsa kita sejak merdeka hingga kini. Dengan
kemajuan pesat di bidang penelitian, pengembangan hasil penelitian gizi dalam
kurun waktu tiga dekade, baru kita menyadari bahwa faktor gizi akan dan bisa
menentukan kualitas suatu bangsa.

Dari catatan kilas balik sejarah perkembangan ilmu gizi di Indonesia dan
penemuan terobosan hasil penelitian gizi dari segi zat gizi mikro dan makro,
terungkap bahwa ilmu gizi terkait erat dengan dimensi ilmu kedokteran,
kesehatan masyarakat, sosial politik, bahkan ilmu biologi molekuler dan yang
mutakhir ilmu nutrigenetika.

Maka dalam perjalanan sejarah di dalam negeri dan luar negeri Ilmu Gizi
berperan turut serta mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas bangsa, seperti
dituangkan dalam desain masalah kesehatan yang diinteraksikan dalam perubahan
paradigma sakit menjadi sehat.

Visi sehat mencakup preventif, promotif, edukatif, dan kuratif. Pernyataan
ketua IDI, Prof FA Moeloek SpOG, tepat sekali bahwa pendidikan kedokteran perlu
diubah yang mencakup semua spektrum tersebut, dimulai dari hulu sampai hilir.

Pemikiran pokok dari pengubahan paradigma tersebut adalah diberlakukannya
sistem asuransi kesehatan sosial untuk seluruh penduduk setempat dengan rasio
satu dokter keluarga mempunyai klien 2.500 sehingga untuk 200 juta keluarga
diperlukan 80.000 dokter keluarga.

Penulis mengamati bahwa disiplin ilmu gizi telah diterapkan sejak tahun 1970-an
sampai 1980-an yang dikenal dengan istilah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
yang dilakukan bersama Gerakan PKK di berbagai daerah, bahkan mendapat bantuan
UNICEF, serta ditunjang dengan Applied Nutrition Program (ANP). Namun institusi
tersebut hanya bertahan seusia pemimpinnya berperan, kemudian sirna dengan
sendirinya.

Mengingat masalah gizi menyangkut semua strata sosial ekonomi, dari miskin
sampai kaya, akses keterkaitan keluarga menjadi mutlak agar semua insan warga
negara Indonesia sadar gizi wajib menerapkan gizi seimbang.

Kesadaran itu tercermin dari kemampuan mengenal masalah gizi dari usia muda
hingga tua, berswadaya mengambil langkah-langkah mengatasi masalah gizi
keluarga, serta mengupayakan paradigma sehat dengan mengutamakan preventif dan
promotif.

Strategi global WHO (Badan Kesehatan Sedunia) yang dicanangkan pada tahun 2004
adalah pola makan gizi seimbang dan aktivitas fisik merupakan kebijaksanaan
global yang telah dikaji secara ilmiah. Tercatat tiga negara sukses
melaksanakannya, yakni Finlandia, Singapura, dan Swedia.

Sebagai tantangan dan imbauan kepada wakil rakyat di DPR agar menghasilkan
karya legislatif yang monumental dan bersejarah, seperti yang dinyatakan oleh
Ketua IDI, berupa undang-undang sistem kesehatan nasional dalam periode ini,
karena sampai saat ini masih berlaku kearifan pernyataan Hippocrates, Bapak
Ilmu Kedokteran, yaitu "Food first, then drugs, finally scalpel".

Pernyataan Hippocrates yang klasik yang lain sebagai berikut,"Positive health
requires a knowledge of man's primary constitution (which today we call
genetics) and the powers of various foods, both those natural to them and those
resulting from human skill (today's processed food). But eating alone is not
enough for health, there must also be exercise, of which the effect must be
like wise be known. The combination of these two things makes regimen when
proper attention is given to the season of the year, the changes of the winds,
the age of the individual and the situation of his home, if there is any
deficiency in food or exercise the body will fall sick."

Kedua pernyataan Hippocrates yang diangkat berlaku analogi paradigma peranan
faktor gizi sebagai prasyarat utama menjadi sehat, sedangkan urutan dari hulu
ke hilir berlaku tahap-tahap prioritas dan perjalanan perkembangan teknik
kedokteran yang menunjang pelayanan kesehatan bermutu.

Merangkum uraian di atas seiring dengan sejarah UU Pokok Kesehatan tahun 1960,
SKN 1980, UU Kesehatan No 32 Tahun 1992, ada kemajuan pemikiran dalam desain
penatalaksanaan sistem kesehatan nasional era reformasi, yaitu pelayanan
kesehatan yang berkeadilan, bermutu, merata bagi semua insan warga negara sejak
usia dalam kandungan sampai memasuki usia lanjut, berlandaskan pada tanggung
jawab setiap insan sebagai anggota keluarga/satuan utuh keluarga berslogan
keluarga sehat, masyarakat, dan negara menjadi kuat.

Cakupan dimulai dari kandungan kegiatan sadar gizi dan berswadaya pemecahan
masalah gizi, disertai kegiatan fisik mencapai kebugaran, pengendalian usia
lanjut (age control), balita, kehamilan, ibu menyusui, usia sekolah serta
memiliki mindset yang positif untuk mengendalikan stres, kesadaran, kepedulian
lingkungan yang ramah serta sehat.

Merupakan sinyal lampu merah bila setengah dari rakyat Indonesia (100 juta)
mengalami malnutrisi dengan dampak sosial ekonomi budaya yang negatif
berdasarkan relevansi pembuktian ilmiah.

Semoga DPR bersama jajaran organisasi profesi seperti IDI, Persagi, dan Pergizi
Pangan menggariskan visi bangsa melalui Sistem Kesehatan Nasional sehingga kita
bisa memasuki sejarah dan kehidupan sehat baru bagi 200 juta lebih rakyat di
masa depan.

Disadur oleh:Juli Oprianty Saragih SKM
Sumber:Darwin Karyadi
Pakar Gizi, Mantan Ahli Peneliti Utama Departemen Kesehatan,
Guru Besar Tidak Tetap Pasca Sarjana, IPB Bogor


Jumaga Nainggolan

0 komentar:

Posting Komentar